Pendahuluan

Kuis

Referensi

Tim


Dilihat: 1401
Diunduh: 266

 

Uraian

 

Sejak zaman prasejarah seperti zaman megalitikum, manusia yang hidup di zaman tersebut sudah menganut kepercayaan terkait kekuasaan di luar kuasa manusia. Sistem kepercayaan yang dianut pada zaman tersebut secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu animisme dan dinamisme.

 

 

 

Pengertian Animisme

 

Kata animisme berasal dari bahasa Latin, yaitu anima yang berarti ‘roh’. Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh. Paham animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini.

 

Banyak kepercayaan animisme yang berkembang di masyarakat Nusantara. Contohnya adalah kepercayaan masyarakat Nias yang meyakini bahwa tikus yang sering keluar masuk rumah adalah jelmaan dari roh wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan. Atau, keyakinan bahwa roh orang yang sudah meninggal bisa masuk ke dalam jasad binatang lain, seperti babi hutan dan harimau. Biasanya, roh tersebut akan membalas dendam terhadap orang yang pernah menyakitinya ketika hidup. Tahukah kamu di mana Nias berada?

 

 

 

 

Pengertian Dinamisme

 

Perkataan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.

 

Dalam Ensiklopedi umum, dijumpai definisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan. Maksud dari arti tadi adalah kesaktian dan kekuatan yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api, batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri.

 

 

 

Keterkaitan Sistem Kepercayaan Dengan Tradisi Bangunan Batu Besar

 

Adanya sistem kepercayaan yang diyakini oleh manusia pada saat itu telah melahirkan adanya tradisi megalitikum yaitu membuat bangunan-bangunan besar. Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologis diketahui bahwa peradaban megalitikum lebih banyak berkaitan dengan tradisi memuja roh dan arwah nenek moyang. Bangunan-bangunan tersebut seperti menhir, dolmen, sarkofagus, dan lain-lain adalah salah satu bentuk fisik kepercayaan animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah.

 

Untuk mengungkapkan rasa bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh alam, mereka melakukan upacara ritual yang dipersembahkan untuk alam. Untuk itu, mereka percaya bahwa alam beserta isinya mempunyai kekuatan yang tak bisa dicapai oleh akal dan pikiran mereka. Untuk melaksanakan ritual atau upacara keagaman, masyarakat pra aksara berkumpul di komplek megalithik seperti punden berundak-undak, menhir, dolmen, sarkofagus, dan lain-lain. Bangunan batu besar ini banyak sekali ditemukan di sepanjang wilayah Jawa Barat.

 

 

Pemujaan terhadap arwah nenek moyang dari tradisi megalithik yang dilatarbelakangi oleh pendapat bahwa nenek moyang yang meninggal dari zaman megalitikum itu masih hidup tetapi di dunia arwah, dan arwah tersebut pun diyakini masyarakat setempat telah bersemayam di tempat-tempat tertentu yang dianggap suci seperti di gunung-gunung yang tinggi. Dan hampir semua benda-benda di zaman megalitikum ini digunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada arwah nenek moyang, baik dalam tradisi megalithik pra aksara maupun tradisi megalithik yang masih berlanjut.

 

 

megalitikum muncul untuk digunakan masyarakat yang hidup pada masa tersebut sebagai alat peribadatan atau penguburan. Dan dari hasil penelusuran, telah diketahui bahwa peninggalan zaman megalitikum ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sakral, banyak sekali peninggalan yang ada hubungannya dengan kebutuhan sehari-hari pun juga disebut sebagai peninggalam zaman megalitikum, contohnya ada batu tegak yang berfungsi sebagai batas perkampungan, lalu ada susunan batu-batu besar untuk persawahan, ada juga lumpang batu yang dipergunakan untuk menumbuk biji-bijian, dan lain-lain.

 

Kepercayaan terhadap animisme telah berlangsung terus sampai sekarang dan mengalami proses evolusi yang sangat panjang. Di beberapa suku bangsa di Indonesia kepercayaan tersebut masih ada walaupun dengan bentuk yang berbeda-beda. Aktivitas masyarakat di zaman sekarang pun masih ada yang terkait dengan kepercayaan masyarakat megalitikum, contohnya:

  • Upacara tertentu yang biasanya dilakukan oleh sesorang yang memiliki keahlian khusus yang bisa menghubungkan dunia nyata dengan roh halus. Biasanya orang yang memiliki keahlian tersebut adalah seorang yang berprofesi sebagai dukun atau kuncen
  • Banyak anggota masyarakat modern yang masih percaya dengan benda yang dimiliki oleh masing-masing personal seperti batu akik (cincin) yang diduga bisa membawa berkah dan zaman dulu mayoritas masyarakat setempat memiliki batu cincin tersebut.

 

 

Bisakah kamu menambahkan contoh aktivitas lainnya? Untuk menambah pengetahuanmu, coba kamu klik link berikut untuk mempelajari zaman megalitikum dari sumber lain yaitu: http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/megalitikum.html

 

Kamu juga bisa mempelajari video berikut terkait dengan kebudayaan zaman megalitikum pada video ini.

 

Jadi, di zaman megalitikum, manusia di masa tersebut sudah memiliki sistem kepercayaan di luar kuasa manusia. Namun kepercayaan tersebut tidak dapat disebut agama.